Berita Program PKSA Terbaru

Dirjen Yanrehsos Mengunjungi Penerima Manfaat PKSA

Posted by Program Kesejahteraan Sosial Anak on Rabu, 08 September 2010 , under | komentar (0)



Setelah membuka dengan resmi kegiatan Bimbingan dan Pemantapan Pekerja Sosial  Dalam Pengasuhan Alternatif/PKSA dan Pengelola Program Kesejahteraan Sosial Anak ( PKSA ) yang berlangsung di Bandung,  Dirjen Yanrehsos Makmur Sunusi Ph.D. turun langsung ke lapangan menemui para penerima manfaat yang terdiri dari anak-anak jalanan dan orangtuanya di daerah Citepus Pasteur, Bandung. Setelah menyusuri  jalanan yang sempit dan agak kumuh, Dirjen Yanrehsos yang disertai Harry Hikmat dan Rachmat Koesnadi  serta Sakti peksos, tiba di salah satu rumah penerima manfaat.


Pada kesempatan itu, Makmur Sunusi memberikan pengarahan kepada orangtua yang hadir untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya  bantuan PKSA dari pemerintah tersebut untuk kepentingan masa depan anak-anak mereka dengan menarik anak-anaknya dari jalanan, kembali ke sekolah dan kembali ke rumah atau komunitasnya. Dijelaskannya pula bahwa jalanan bukan tempat yang baik untuk anak, karena rawan akan tindakan eksploitasi baik seksual maupun tindak kekerasan terhadap anak, ditambah lagi resiko kecelakaan tertabrak kendaraan.
Para orangtua,  dalam dialog tersebut, berjanji  tidak akan menyuruh anaknya ke jalanan lagi dan akan bersungguh-sungguh  memanfaatkan tabungan anaknya untuk kepentingan si anak dengan dibantu oleh para Sakti Peksos yang mendampingi mereka. Harapan mereka adalah anak-anaknya kelak bisa sukses dan berhasil serta tidak hidup susah seperti orangtuanya.

Profil Penerima Manfaat Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA)

Posted by Program Kesejahteraan Sosial Anak on , under | komentar (0)



Keluarga L yang tinggal di sekitar Citepus Kel. Pajajaran Bandung, selain bekerja sebagai buruh serabutan, juga mencari nafkah  dengan berjualan cimol goreng. Istrinya, R, hanya ibu rumah tangga biasa. Mereka dikarunia 2 anak yang berusia  14 tahun  dan 9 tahun . 

Sebagai penerima manfaat buku tabungan Kesejahteraan Sosial Anak, keluarga ini sangat terbantu dalam menyelesaikan masalah pendidikan untuk anak-anaknya. Terutama E yang harus berhenti sekolah saat kelas 1 SMP. Keterbatasan biaya untuk membeli peralatan, pungutan sekolah serta membuatnya tutun ke jalan untuk mengamen. E  harus membantu ayahnya berjualan cimol di pinggir jalan untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Saat ini, Sakti Peksos sedang mengupayakan agar Eka bisa kembali ke sekolah semester depan dan mengisi waktu senggangnya dengan hal-hal yang bermanfaat.   Adapun adiknya, D, mulai meninggalkan jalanan setelah menerima tabungan.

Tanggapan keluarga itu, dengan adanya tabungan pendidikan untuk anak-anak mereka, sangat berterima kasih sekali. Karena beban untuk kepentingan pendidikan anak-anaknya sudah tertanggulangi. Baju seragam  dan alat-alat sekolah bukan masalah lagi bagi dirinya, dan anak-anaknya mulai timbul rasa percaya dirinya Baik di sekolah maupun di lingkungan sekitarnya.Bapak L berharap, program ini akan terus berjalan agar anak-anaknya kelak mempunyai cukup bekal pendidikan yang layak untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Menteri Sosial Sahur Bersama dengan 500 Anak Jalanan

Posted by Program Kesejahteraan Sosial Anak on , under | komentar (0)



Carrefour Cempaka Putih, jakarta 8 September 2010, pukul 03.00 WIB Menteri Sosial RI DR. Salim Segaff Al Jufri, MA bersilaturahmi dan sahur bersama dengan 500 anak jalanan 

Turut hadir dalam acara sahur bareng itu, Dirjen Yanrehsos Makmur Sunusi Ph.D, Direktur Pelayanan Sosial Anak Dr. Ir. Harry Hikmat dan stafnya, perwakilan dari PT Carefour, Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, Anak-anak Binaan rumah singgah wilayah DKI Jakarta beserta Ketua yayasan, dan para Sakti Peksos yang jadi pendamping anak-anak jalanan.
Adapun tujuan diadakannya sahur bersama ini adalah untuk menjalin tali silaturahmi dan berbagi untuk anak-anak kurang beruntung itu, dengan didukung oleh pihak Pemerintah, swasta dan Lembaga sosial kemanusiaan.
Acara yang dipandu oleh Kak Heni dan Kak Seto mampu membawa suasana semakin semarak, apalagi dengan terjalinnya tanya jawab antara anak-anak dengan Menteri Sosial. Inti dari semua pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa anak, bertumpu kepada bagaimana agar si anak bisa kembali ke sekolah dan keluarganya. Karena, menurut Menteri Sosial agar seseorang bisa berubah menjadi pintar dan punya kehidupan yang baik adalah dengan belajar. Dan bagi para orang tua yang menyuruh anaknya ke jalan, harus diberi pemahaman disertai jalan keluar agar kesulitan ekonomi yang dihadapi bisa terpecahkan dengan memanfaatkan program-program pemberdayaan ekonomi keluarga.
Menjelang makan sahur, Menteri Sosial turut bergabung bersama anak-anak untuk sahur bersama, kemudian langsung dilaksanakan Shalat Subuh berjamaah.

Oleh : Ai Riana, AKS

Balita Terlantar Menjadi Anak Negara

Posted by Program Kesejahteraan Sosial Anak on Selasa, 07 September 2010 , under | komentar (0)



Meningkatnya jumlah balita terlantar merupakan kegagalan orang tua dalam memberikan pola pengasuhan terhadap anak," demikian dikatakan Direktur Pelayanan Sosial Anak, Harry Hikmat, pada kegiatan Bimtap untuk pekerja Sosial di Batam (28/7) 2010.

Balita terlantar tentunya akan  menjadi anak negara, diasuh di panti–panti sosial dan akan tetap berada di bawah pengawasan pemerintah, kalau tidak ditangani secara cepat akan ada oknum – oknum tertentu yang akan memanfaatkan situasi tersebut, Ini menjadi hal yang ironis dan memprihatinkan, seyogyanya ada kesadaran dari semua pihak baik aparat pemerintah maupun  masyarakat betapa pentingnya memperhatikan hak-hak anak untuk dapat hidup, tumbuh kembang, mendapatkan perlindungan dan berpartisipasi," tuturnya.

“Informasi tentang situasi anak-anak tersebut menunjukkan bahwa anak-anak akan mengalami resiko kekerasan, eksploitasi, penelantaran, diskriminasi dan situasi buruk lainnya, sehingga  menjadikan generasi yang tidak punya masa depan (lost generation) faktor ekonomi sering menjadi alasan, sehingga balita rentan menjadi korban trafficking, ditambah banyaknya TKW hamil diluar nikah dan memiliki anak,” ungkap Harry. 
 
Tingginya jumlah anak balita yang belum terjangkau oleh sistem pelayanan sosial anak, kata Harry karena “terbatasnya cakupan program untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin yang jumlahnya besar, belum optimalnya kerjasama antara lembaga-lembaga, maka diperlukan program yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan yang mampu menjangkau sasaran dengan lebih adil dan merata melalui Program Kesejahteran Sosial Anak Balita (PKSAB).”

“Kementerian Sosial telah menindaklanjuti untuk merumuskan Rencana Strategis Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak 2010-2014 dan menjadi acuan utama ditetapkannya Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA), program PKSAB akan terus disosialisasikan agar masyarakat bisa lebih mengetahui program nasional pemerintah,” lanjutnya.

Salah satu upaya pemerintah untuk merespon keragaman kebutuhan esensial anak secara individual, sehingga hak dasar anak yakni hak hidup, tumbuh kembang, pengasuhan dan perlindungan, serta hak partisipasi dapat dipenuhi, dan masalah-masalah sosial anak dapat diatasi secara signifikan melalui PKSAB, tuturnya.  
 
“Adanya sakti peksos untuk program kesejahteraan anak bisa memberikan satu pelayanan yang baik bagi kelangsungan anak yang ditangani, membantu penerapan metode, teknik dan keterampilan sosial yang dilaksanakan di lembaga kesejahteraan sosial anak, dengan pelayanan dan pendampingan yang baik bisa memberikan sasaran program PKSA yang lebih terarah,” terang Harry.
Bimtap Sakti Peksos, dihadiri 60 peserta dari 5 Propinsi (Propinsi Sematera Selatan, Jawa Barat, Babel, DKI Jakarta, dan Banten).***(Tira/C-9)
 




Pekerja Sosial

Posted by Program Kesejahteraan Sosial Anak on Senin, 06 September 2010 , under | komentar (0)